Pages

Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 September 2013

Informasi buku Terbaru dan Terlaris

BUKU-BUKU TERLARIS & TERBARU

Budaya Timur dalam Fisika Modern

Judul: Jalan Paradoks - Visi Baru Fritjof Capra tentang Kearifan dan Kehidupan Modern
Penyunting: Budhy Munawar-Rachman & Eko Wijayanto
Penerbit: Teraju & Centre for Spirituality and Leadership
Cetakan: I, Juli 2004
Tebal: ix+219 halaman

Fritjof Capra, seorang ahli fisika, menawarkan arah baru dengan pendekatannya yang berpijak pada pemikiran Timur, terutama Taoisme yang cenderung intuitif, meninggalkan aturan ketat, dan menyeluruh. Ini seirama dengan pergeseran dari fisika klasik Newton-yang menganggap semua benda adalah partikel-ke arah fisika kuantum yang melihat adanya unsur partikel dan gelombang. Bila fisika klasik mempunyai ciri parsial, mekanistik, terukur, dapat diprediksi, fisika kuantum mengandung ketidakpastian dan probabilitas.

Paul Suparno, salah satu penulis dalam publikasi ini, mengemukakan perubahan paling menonjol dari perubahan pendekatan fisika tersebut adalah kesadaran untuk berpikir secara holistik, menyeluruh dan utuh, guna memahami manusia dan alamnya. Ditunjukkannya fenomena Capra dalam dunia pendidikan, di mana pembelajaran tidak hanya menekankan pada sisi kognitif, tetapi juga menyentuh kecerdasan emosi, sosial, bahkan spiritual. Demikian juga pada bidang kesehatan, pengobatan berteknologi canggih dan metode alternatif berkembang berdampingan.

Penulis lain, Subur Wardojo, mencoba menerapkan konsep Capra pada dunia sastra melalui filosofi yin-yang, dua kutub ajaran Taoisme yang dilambangkan dengan warna hitam dan putih yang hidup berdampingan secara serasi. Penulis menggagas sains dan sastra hendaknya tidak dipandang sebagai berlawanan, namun berhubungan dan saling melengkapi.

Buku ini mewadahi diskusi pemikiran Capra menurut sembilan penulis dari berbagai disiplin ilmu. Kajiannya mencakup upaya penciptaan kesadaran terhadap lingkungan, feminisme, filsafat Jawa, sampai mistisisme pada dunia ilmiah modern. (THA/Litbang Kompas)

Kisah Ramayana dan Musnahnya Pengetahuan

Judul: Kitab Omong Kosong
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: I, Juli 2004
Tebal: vii+623 halaman
Harga: Rp 69.000

Kejahatan tidak akan pernah mati, demikian pula kebaikan, akan selalu hidup untuk memerangi kejahatan. Perseteruan dua kubu tersebut melatarbelakangi cerita dalam buku ini. Awalnya dituturkan kisah Ramayana, di mana Rama berhasil mengalahkan Rahwana, namun tidak mampu memusnahkannya. Rahwana terus menebarkan kedengkian dan keserakahan kepada umat manusia melalui gelembung-gelembung kejahatan yang dikeluarkannya. Tidak terkecuali kepada Rama, raja yang dikenal bijaksana ini. Sinta, yang tengah hamil muda, dituduhnya tidak setia dan berselingkuh dengan Rahwana. Akibatnya, Sinta memilih lari dari Kerajaan Ayodya.

Rama juga mengerahkan pasukannya untuk membinasakan setiap kerajaan yang membantah tunduk pada kekuasaannya. Pasukan Ayodya tidak hanya membunuh manusia, tetapi juga menghancurkan perpustakaan, memusnahkan kebudayaan, dan menghapus semua ilmu pengetahuan dari ingatan manusia. Hanya Lawa dan Kusa, dua anak Sinta, yang berhasil menghentikan kekejaman pasukan Ayodya.

Selanjutnya, diceritakan tokoh Satya dan Maneka, korban dari kekejaman perang itu. Kepada merekalah tertumpu harapan untuk menemukan kembali kitab omong kosong, kitab yang berisi dasar-dasar pengetahuan kunci penalaran bagi semua ilmu pengetahuan. Kitab ini diperebutkan juga oleh pihak-pihak yang ingin agar manusia tetap hidup dalam kegelapan. Untuk mendapatkan kitab ini, Satya dan Maneka harus pergi ke Gunung Kendalisada, tempat kelima bagian kitab tersebut disimpan. Hanya, tak seorang pun tahu di mana Gunung Kalisada itu berada. (LAZ/Litbang Kompas)

Polemik tentang Kesusastraan Indonesia

Judul: Krisis Daya Cipta Indonesia: Polemik Soedjatmoko Versus Boejoeng Saleh
Penyunting: M Nursam
Penerbit: Ombak
Cetakan: I, Agustus 2004
Tebal: xxxviii+114 halaman
Harga: Rp. 27.000

Tidak selamanya perbedaan pandangan berujung pada pertikaian. Soedjatmoko dan Boejoeng Saleh menjadi salah satu contoh. Polemik dalam pemikiran mengenai krisis kesusastraan Indonesia di awal 1950-an mengantarkan keduanya dalam benturan gagasan yang menggairahkan dan konstruktif tanpa diselesaikan secara politis dan direduksi secara ideologis. Buku ini menyajikan dinamika polemik tersebut secara rinci.

Mulanya, Soedjatmoko, pendiri majalah politik dan kebudayaan Siasat (1947), melayangkan tulisan berjudul "Mengapa Konfrontasi?" di majalah Siasat. Tokoh intelektual Indonesia yang pernah menjabat Rektor Universitas PBB di Tokyo ini mengemukakan terjadinya krisis dalam kesusastraan Indonesia. Tulisan yang merupakan hasil pemikiran dalam kelompok Diskusi Konfrontasi itu memicu perdebatan di kalangan budayawan dan intelektual pertengahan tahun 1950-an. Boejoeng Saleh, yang juga dikenal dengan nama SI Peeradisastra, mantan redaktur majalah Kebudayaan Indonesia (1953-1958), menanggapi tulisan Soedjatmoko melalui "Kewajiban yang Tak Boleh Ditunda" di majalah yang sama. Boejoeng Saleh menyatakan tidak ada krisis kesusastraan ataupun kebudayaan. Memajukan kesusastraan harus dengan meniadakan krisis ekonomi, politik, dan sosial. Jarak antara kebutuhan obyektif rakyat dan kenyataan harus ditiadakan. Revolusi nasional demokratis juga harus dikendalikan. Polemik berlanjut dengan tulisan Soedjatmoko berikutnya adalah "Surat Terbuka I" dan "Surat Terbuka II". Boejoeng Saleh pun menjawab dengan tulisan selanjutnya "Latar Belakang Kesejarahan Krisis di Indonesia" dan "Kaum Terpelajar Indonesia dan Perjuangan Bangsanya". (SHS/Litbang Kompas)


Pendaratan Manusia di Bulan: Fakta atau Rekayasa?

Judul: Manusia Tidak Pernah Mendarat di Bulan?
Penulis: Sony Set dan Andra Nuryadi
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Cetakan: I, 2004
Tebal: viii+155 halaman
Harga: Rp 19.000

Sejarah pendaratan manusia di Bulan dimulai tahun 1957 ketika Rusia (Uni Soviet) berhasil menerbangkan Sputnik, dan pada tahun 1961 Yuri Gagarin dinobatkan menjadi manusia pertama yang mengudara di atas orbit Bumi menggunakan pesawat Vostok I. Sejarah pun mencatat kesuksesan Uni Soviet menggapai ruang angkasa. Merasa ketinggalan satu langkah, pada tahun 1961 Presiden Amerika Serikat John F Kennedy mengumumkan program Apollo dengan tujuan mendaratkan manusia di Bulan. Pada tahun 1969, Apollo 11 dikabarkan mendarat di Bulan. Neil Armstrong dan Edwin "Buzz" Aldrin kemudian dikukuhkan menjadi astronot pertama yang menjelajahi permukaan Bulan. Masyarakat internasional tercengang atas prestasi yang dicapai NASA. Program ini dilanjutkan dengan pendaratan Apollo 12,14,15,16 dan terakhir Apollo 17 pada tahun 1972. Lebih dari tiga puluh tahun kemudian belum tersiar lagi berita pendaratan manusia di Bulan.

"Mengapa NASA tidak sanggup lagi mengirimkan manusia ke Bulan?" Atas pertanyaan tersebut, kemudian berkembang wacana bertitik tolak pada teori konspirasi yang mencoba memutarbalikkan kisah sukses tersebut. Sejumlah teori dan fakta pendukung, seperti kejanggalan latar belakang fotografi, diungkapkan sehingga menimbulkan silang pendapat. Tulisan dalam buku ini dimaksudkan sebagai pembuka cakrawala baru akan berbagai misteri yang menyelubungi proyek Apollo. Membaca buku ini membuat kita diliputi rasa penasaran dan turut bertanya, "Benarkah ada manusia yang pernah mendarat di Bulan?" (DEW/Litbang Kompas)

Manajemen Komunikasi Kepresidenan

Judul: Centang-Perenang Manajemen Komunikasi Kepresidenan dari Soekarno sampai Megawati
Penulis: Rendro Dhani
Penerbit: LP3ES
Cetakan: I, 2004
Tebal: xxviii+255 halaman
Harga: Rp 55.000

Setiap presiden memiliki gaya dan strategi komunikasi yang berbeda meskipun kadang mereka menjalankan sistem manajemen media yang serupa. Contohnya gaya komunikasi Soekarno dan Soeharto. Soekarno senantiasa tampil berwibawa, penuh semangat, dan atraktif. Sementara Soeharto lebih menunjukkan gaya komunikasi yang tenang dengan penampilan bersahaja tanpa meninggalkan kewibawaannya. Walau berbeda gaya, keduanya menerapkan sistem manajemen media yang mirip. Mereka cenderung membelenggu pers, menuntut media mendukung kebijakannya, dan tidak segan menerapkan sanksi untuk media yang dianggapnya berseberangan dengan pemerintah.

Habibie dikatakan berhasil meniupkan fenomena baru dalam sistem komunikasi politiknya, namun sistem manajemen yang diterapkan tak berbeda dari kedua pendahulunya. Abdurrahman Wahid mempunyai gaya komunikasi yang lain. Gus Dur sering melontarkan pernyataan atau informasi secara spontan yang sering kali mengganggu kelancaran pemerintahannya. Penulis pun menyimpulkan, Gus Dur tidak mempunyai manajemen komunikasi. Megawati Soekarnoputri menjadikan diam sebagai bagian dari komunikasinya walaupun pada awal pemerintahannya telah mencoba untuk menata informasi dan komunikasi di lingkungan kepresidenan

Dalam buku ini, kecuali mengkaji manajemen komunikasi kelima presiden Indonesia, penulis juga mengetengahkan berbagai strategi manajemen komunikasi kepresidenan modern. Di sini diperlihatkan faktor-faktor yang memengaruhi tercapainya manajemen komunikasi yang efektif, perkembangan organisasi kepresidenan dan strategi manajemen komunikasinya, serta peranan media massa dalam manajemen komunikasi. (RPS/Litbang Kompas)
Read More..

Jumat, 19 Juli 2013

Buku Tentang Seluk Beluk Jin

Dari segi bahasa Alquran, kata jin terambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf: jim, nun, nun.

Menurut pakar-pakar bahasa, semua kata yang terdiri dari rangkaian ketiga huruf ini
mengandung makna ketersembunyian atau ketertutupan. Kata janna dalam Alquran surah
Al-Anam ayat 76 berarti menutup. Kebun yang lebat pepohonannya sehingga menutup
pandangan dinamai jannah. Surga juga dinamai jannah karena hingga kini ia masih tersembunyi, tidak terlihat oleh mata. Manusia yang tertutup akalnya (gila) dinamai majnuun, sedangkan bayi yang masih dalam perut ibu karena ketertutupannya oleh perut dinamai janin. Al-junnah adalah perisai karena dia menutupi seseorang dari gangguan orang lain, baik fisik maupun nonfisik.

Orang-orang munafik menjadikan sumpah mereka sebagai junnah demikian Alquran surah
Al-Munafiqun ayat 3, yakni menjadikannya sebagai penutup kesalahan agar mereka terhindar dari kecaman atau sanksi. Kalbu manusia dinamai janaan karena ia dan isi hati tertutup dari pandangan dan pengetahuan. Karena itu pula roh dinamai janaan. Kubur, orang mati, kafan semuanya dapat dilukiskan dengan kata janaan karena ketertutupan dan ketersembunyian yang selalu berkaitan dengannya.

Kata jin pun demikian, ia tersembunyi dan tertutup. Demikian tinjauan kebahasaan. Tetapi, apa makna ketertutupan dan ketersembunyiannya, serta sampai di mana batasnya? Inilah yang menjadi bahasan para pakar dan masyarakat sejak dahulu, bahkan hingga kini.

Download Ebook (175.38 KB)
Read More..

Kamis, 18 Juli 2013

Buku Biografi Jokowi Spirit Bantaran Kali Anyar

Sampul buku Jokowi
Sampul buku Jokowi
Buku berjudul Jokowi Spirit Bantaran Kali Anayar patut hadir di ruang baca anda, mempelajari bagaimana kehidupan sosok pemimpin satu ini sepertinya akan menyenangkan, mengistirahatkan kekesalan kita atas berita-berita yang memuat kebobrokan pemimpin bangsa, presiden yang jual citra dan tak berani bertindak tegas. Sosok yang lebih dikenal dengan Jokowi (Joko Widodo) patut untuk disimak.

Buku ini semacam sebuah biografi yang mengutip kehidupan pemimpin yang sederhana namun tegas ini. Riwayat Kehidupan Joko Widodo kecil adalah anak seorang "tukang kayu". Setelah Beliau lulus dari SMA, kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Setelah lulus kuliah tahun 1985, dirinya merantau ke Aceh dan bekerja di salah satu BUMN.

Kemudian Jokowi kembali ke Solo dan bekerja di Perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan, CV. Roda Jati. Setelah merasa cukup, pada tahun 1998, dirinya berhenti bekerja di CV tersebut dan memulai berbisnis sendiri bermodal dari pengalaman yang pernah ia miliki. Dengan kerja keras, ketekunan dan keuletan, akhirnya Jokowi berhasil mengembangkan bisnisnya dan menjadi seorang eksportir mebel.

Jokowi memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Solo dengan partai politik PDI Perjuangan sebagai kendaraan politiknya. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa.

Langkah Jokowi berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Sikap rendah hati Walikota solo ini tidaklah dibuat-buat. Bagi Masyarakat Solo, Jokowi adalah sosok pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan mereka. Di lorong pasar dan jalan-jalan di Kota Solo, Pak Jokowi sering sekali mengobrol dan mendengarkan keluh kesah rakyat tanpa jarak.

Pria berpostur kurus penyuka nasi kucing yang dulu tinggal di bantaran Kali Anyar ini sangat fenomenal. Perilakunya ngewongke wong - memanusiakan manusia - dan pengayom, membuatnya begitu dicintai oleh masyarakat Solo. Terbukti, setelah sukses memindahkan PKL berjumlah hampir 1000 orang tanpa kekerasan dan penggusuran, lebih dari 90 persen rakyat Solo memilihnya kembali untuk periode kedua.

Menyebut nama Jokowi berarti menyebut nama seorang tokoh pemimpin masa depan yang paling dibutuhkan orang di Republik ini. Tak hanya dari kacamata ketatanegaraan tetapi dari perikehidupan sederhananya itulah yang menjadikannya sebagai harapan terutama di masa sulit seperti saat ini.

Jokowi mengaku bodoh, mengaku tak punya tampang, mengaku tak pantas menjadi pemimpin, dan Jokowi mengaku ini dan itu. Tetapi, dialah orang yang melakukan hal-hal yang tidak umum dilakukan oleh para pemimpin kita, mulai dari tingkat RT hingga Presiden. Buku Jokowi ini menjadi informasi berharga tersendiri di tengah sikap Jokowi yang kerap tidak mau publikasi.

Buku ini pula memotivasi segala lapisan masyarakat: Pertama, bahwa harapan itu masih ada. Kedua, siapa pun para pemimpin itu layak menimba ilmu kepada Jokowi untuk melakukan perubahan penting.

Selamat berburu bukunya dan menikmati :D
Read More..

Download Buku The Secret Rhonda Byrne

Rahasia besar kehidupan adalah hukum tarik menarik, hukum alam. Hukum ini sama pentingnya dengan hukum grafitasi. Konon Rahasia yang telah berabad-abad ini telah dipahami oleh orang-orang ternama dalam sejarah seperti : Plato, Galileo, Beethoven, Edison, dan Einstein. Dengan menguasai Secret, kekuatan untuk menggerakan dunia ada di tangan Anda. Pikiran bersifat magnetis dan memiliki frekuensi. Selama Anda berpikir, pikiran-pikiran itu dikirim ke semesta dan pikiran-pikiran itu akan menarik semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Penciptaan selalu terjadi. Setiap kali seseorang mempunyai pikiran atau cara berpikir kronis yang panjang, ia sedang berada di dalam proses penciptaan. Sesuatu akan terwujud dari pikiran-pikirannya. Naluri adalah semesta yang mengilhami Anda dan berkomunikasi dengan Anda yang berada di frekuensi menerima yang akan menggerakan Anda secara magnetis untuk menerima apa yang Anda minta. Pikiran adalah penyebab utama dari segala sesuatu, dan selebihnya adalah akibat dari pikiran itu.

Download Ebook disini :
The_Secret1.pdf
The_Secret2.pdf
The_Secret3.pdf
The_Secret4.pdf

Judul Buku : The Secret
Penulis : Rhonda Byrne
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2007
Read More..

Rabu, 17 Juli 2013

Resensi Buku Pram Melawan!

Pram Melawan! : Dari Perkara Sex, Lekra, PKI, sampai Proses Kreatif

Siapa yang tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer, seorang tokoh yang memang kontroversial hingga akhir hayatnya. Sosok Pramoedya sulit ditangkap secara utuh. Kecurigaan serta stigma "kiri" atau "komunis" yang melekat padanya, semakin membuat tokoh yang diwacanakan sebagai penerima hadiah Nobel untuk bidang sastra itu, terlupakan.

Padahal menjelang akhir hayatnya, sejumah karyanya mengalami cetak ulang. Di sejumlah forum, karyanya tidak pernah sepi dibicarakan dan diapresiasi. Bahkan tidak sedikit remaja mulai tergila-gila dengan karya Pramodya.

Oleh sebab itu, terbitnya buku Pram Melawan!, merupakan sebuah titik pijakan baru yang dapat mengantarkan para peminat karya Pram (demikian panggilan pendek Pramoedya), pemerhati sejarah, maupun peneliti sastra menuju pemahaman semesta Pramoedya secara lebih lengkap.

Buku Pram Melawan merupakan kumpulan sejumlah wawancara yang dilakukan oleh penyusunnya dengan Pram. Topiknya beragam, dari soal politik, sastra, kebudayaan, keluarga, sosial hingga pengalaman pribadinya ketika dibuang ke pulau Buru.

Dari sinilah pembaca dapat melihat banyak sisi lain dari Pram. Ia seakan ingin orang mengetahui duduk persoalan masa lalunya secara jernih terkait dengan kekuasaan. Ia juga ingin meluruskan siapa yang sebenanya layak disebut sebagai orang yang merampas kebebasan orang lain.

Sementara itu, untuk pihak-pihak yang berseberangan dengannya di masa lalu, Pram seakan ingin mereka melihat alasan-alasan mengapa lelaki pendukung Soekarno itu melakukan sesuatu yang dianggap keliru.

Salah satu pertanyaan yang sering mengusik tentang Pram adalah, apakah ia seorang anggota Partai Komunis Indonesia ketika itu? Ia menjawab, anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) tidak otomatis menjadi anggota PKI.

Bagi Pram, Lekra adalah kiri. Namun, kiri tidak berarti komunis. Kiri adalah orang yang tertindas dan tersingkirkan. Golongan seperti inilah yang harus dibela. Merekalah yang harus dimanusiakan. Jadi, keliru jika golongan ini yang harus diperlakukan tidak adil.

Itu juga yang menjadi roh dalam realisme sosial di dalam sastra. Mereka yang tertindas harus dibebaskan, diberi kesadaran. Jadi, realisme sosial akan tetap relevan hingga kapan pun selama rakyat yang tertindas masih ada.

Hal menarik lain yang diungkapkan oleh Pram adalah permusuhan Lekra dengan Manikebu. Menurut pengakuannya, Pram memang melawan orang-orang golongan Manikebu. Alasannya, ia hanya berusaha mencegah demokrasi liberal ala Barat dan melawan orang-orang yang anti terhadap Soekarno.

Menariknya, dalam wawancara yang dilakukan, Pram selalu berbicara terbuka, tanpa tedeng aling-aling. Seluruh gelora emosi, kekesalan, serta kekecewaannya, tertumpah tanpa beban dalam buku ini.

Buku ini bagaikan sebuah medium bagi Pram untuk menunjukkan realitas dirinya. Sebuah realitas yang berkorespondensi dengan berbagai gejala yang ada di sekitarnya. Realitas ini bagi Pram bukan hanya sesuatu yang hadir dari bawah alam sadar, namun juga sesuatu yang terinternalisasi dari lingkungan.

Kita tungu saja apakah akan ada yang menjawab isi buku ini. Jika pun ada, semoga itu diletakkan dalam keranga sejarah kebudayaan dan kesenian, bukan politik yang tidak berujung.

Info Buku;
Judul : Pram Melawan! : Dari Perkara Sex, Lekra, PKI, sampai Proses Kreatif
Penyusun : P Hasudungan Sirait, dkk.
Penerbit : Nalar
Terbit : I, 2011
Halaman : xxxviii + 502 Halaman
Harga : Rp. 135.000
Read More..

Buku Dasar Dasar Riset Keperawatan

Buku Dasar-Dasar Riset Keperawatan karya Dorothy Young Brockopp dan Marie T Hastings-Tolsma kini dapat anda baca disini;



Keyword: Ebook Keperawatan | Buku keperawatan | Buku kesehatan
Read More..

Selasa, 16 Juli 2013

Resensi Buku The Book With no Name

The Book With no Name
The Book With No Name
Novel The Book With no Name, dengan penulis Anonymous ini menceritakan sebuah kota dengan nama Santa Mondega, yang dalam Novel ini tidak akan mungkin ditemukan disebuah peta karena kota ini memiliki banyak misteri.

Ada sebuah batu yang hilang dari Biara Hubal, nama batunya adalah Mata Rembulan, batu ini konon memliki kekuatan mistis yang bisa mengakibatkan kejahatan. Nah ditusulah dua orang biarawan dari Biara Hubal, dua orang biarawan ini harus menemukan Batu mistis itu dan membawanya kembali ke biara hubal, sebelum kegelapan menyelimuti seluruh kota ketika gerhana telah tiba.

Sayangnya, batu itu juga menjadi rebutan banyak orang. Harganya yang sangat besar menjadikan batu itu sering berpindah tangan dari satu pembunuh ke pembunuh keji yang lain. 5 Tahun lalu, ketika terjadi gerhana, di Santa Mondega ada pembunuhan besar-besaran. Sang pemuda yang dikenal sebagai Bocah Bourbon memiliki tingkat kebrutalan yang luar biasa dalam pencariannya akan Mata Rembulan. Setelah pembunuhan keji yang ia lakukan, kabarnya Bocah itu telah mati, atau hilang. Tapi jangan percaya, sebab menjelang gerhana tahun ini, Bocah Pembunuh itu kembali lagi.

Nah, di perpustakaan Santa Mondega juga ada sebuah buku yang nggak ada judul dan nama pengarangnya. Sialnya, setiap orang yang pernah baca buku itu selalu dibantai. Polisi juga sudah mulai mengaitkan berbagai macam pembunuhan ini dengan kehadiran Bocah Bourbon, tapi sepertinya mereka juga takut terhadap Bocah Bourbon yang telah kembali itu. Lalu siapa yang berhasil memiliki Mata Rembulan? Lalu kenapa Bocah Bourbon itu hanya muncul setiap akan ada gerhana?

Seperti kata diatas, buku ini pantas dijadikan Best Seller, karena penuh teka teki, endingnya sangat mantap, Jawabannya tak terkira, Endingnya menyebutkan sang Bocah Bourbon ini siapa, dan benar seperti yang tertera di bagian belakan buku ini, jawabannya tidak jauh dari yang sebenarnya, mantap deh. Recommended !!

Peresensi : Yusuf Fikri
Read More..

Resensi Buku Nak Maafkan Ibu tak Mampu Menyekolahkanmu

Nak, Maafkan Ibu tak Mampu Menyekolahkanmu Karya Wiwid Prasetyo
Novel berjudul Nak, Maafkan Ibu tak Mampu Menyekolahkanmu, bercerita tentang seorang bocah bernama Wenas, bocah miskin yang hidup dengan segala penderitaan komplit.Kehidupannya diwarnai dengan segala kepahitan semisal kelaparan, tidak ada makanan yang bisa dijadikan "ganjal" perutnya. Hampir setiap hari perutnya kesakitan, karena kelaparan. Ayahnya sudah meninggal, yang ada hanyalah ibu yang miskin, yang tentunya sangat menyayanginya, namun selalu murung karena tidak mampu menyekolahkannya.

Namun, dalam kebingungan dan keputusasaan muncul sosok Raga, anak muda berpendidikan yang selalu memberikan semangat pada Wenas. Kemauan keras dan usaha untuk dapat mengenyam pendidikan, selalu menggema di hati Wenas lewat semangat yang selalu digelorakan temannya tersebut. Dengan usaha yang kuat dari Wenas dan ibu semata wayangnya, ia dapat tersenyum untuk bisa sekolah. Kain sisa berwarna merah dan putih yang tidak terpakai, dijahit ibunya untuk dipakai seragam sekolah. Akhirnya Wenas dapat bersekolah yang merupakan keinginannya, walaupun dengan segala keterbatasan.

Namun, kisah pilu dan menyayat hati ini tidak berhenti sampai di sini, walaupun ia bisa meraih cita-cita tinggi untuk sekolah, masalah kemudian muncul bagi keluarga ini. Wenas dan ibunya seolah-olah dihadapkan pada "iblis" sekolah yang senantiasa mengganggu ketentraman hidupnya karena biaya sekolah yang sangat mahal. Sebuah lembaga yang tentu menjadi momok bagi murid seperti Wenas karena biaya yang sangat tinggi.

Sekolah Semesta yang begitu angkuh dan hidup dari kebohongan, dibangun di atas puing-puing keserakahan, semangat kapitalisme untuk mengeruk banyak uang tanpa memperhatikan unsur pendidikan. Melihat kenyataan itu, Wenas hanya bisa meneteskan air mata. Sekolah yang ia tempati membawa masalah pelik, menambah beban pikirannya.Konsentrasi Wenas tidak lagi bagaimana menjadi orang pintar di sekolah ini, tetapi mempertahankan bagaimana ia bisa bertahan di sekolah ini.

Novel ini sangat menggugah perasaan kita, tentang potret nyata keluarga miskin yang berjuang untuk bisa mendapatkan pengajaran dari negara. Entah negara tidak tahu, ataupun tidak mau tahu akan kondisi ini, yang jelas kenyataannya pendidikan, termasuk di negara kita tercinta saat ini semakin membubung tinggi dan semakin sulit terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Sekolah saat ini malahan sudah menjadi ladang komersial dan bisnis yang tidak bedanya dengan pasar, yang hanya mau menampung mereka yang memiliki modal. Hal ini tentunya senyata-nyatanya pengkhianatan negara atas rakyat yang seharusnya mampu menyediakan pendidikan murah bagi warga negaranya.

Jikalau didiamkan, hal ini akan menyebabkan krisis permanen di masa depan negeri. Sebuah negeri yang dipegang oleh bukan ahlinya (cerdas, terpelajar dan bermoral baik) akan secepatnya mengalami kehancuran, begitu pepatah Islam mengatakan. Tentunya jika yang berhak sekolah hanyalah orang kaya, apalagi dengan kolusi dan nepotisme proses masuknya, dengan cara mendepak mereka yang miskin, namun cakap dan cerdas, jelas lambat laun negeri ini akan menemui kehancurannya. Semoga  semangat dan pesan moral dan humanis yang disampaikan buku ini bisa dijadikan bahan kontemplasi dan didengar oleh para pemegang kekuasaan di negara ini. Amin
Read More..

Senin, 15 Juli 2013

Baca Buku Rahasia Meede Misteri Harta Karun VOC By E S Ito

Buku berjudul Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC By E. S. Ito ini sangat mengesankan, jangan lewatkan ebook ini jika anda adalah penikmat sastra, novel, sejarah nusantara, dan tentu saja WARGA INDONESIA. Untuk membaca resensinta, silahkan baca disini < Resensi Rahasia Meede >

Read More..